Senin, 26 Maret 2012

Dongeng Anak Sedunia-Istana Hantu

Istana Hantu

Dahulu kala, ketika peri-peri dan tukang sihir masih berkeliaran memamerkan kesaktiannya, hiduplah dua kakak beradik, laki-laki dan perempuan.

mereka tinggal dalam istana yang indah.Bunga-bunga dan pohon serta buah-buahan tumbuh subur di kebun istana. Tangan-tangan tak terlihat mengatur semua itu. Hidup mereka sehari-hari, bagi kakak beradik itu sendiri merupakan misteri.

Didalam perpustakaan istana, buku-buku membuka dan bersuara membaca sendiri. Mereka mengajarkan aneka pengetahuan kepada dua bersaudara itu. Kedua anak itu tidak takut, karena sejauh mereka bisa mengingat, sejak dulu memang begitu keadaan istana mereka.

Ketika kedua kakak beradik itu dewasa, mereka sering berdiri di menara istana dan memandang ke arah perdusunan. Apa yang mereka lihat membuatnya tak ingin meninggalkan istana.

Disana selalu nampak ada perang. Pasukan-pasukan prajurit berderap merampas sawah ladang. Kadang-kadang mereka berperang sesamanya, dan membakar rumah-rumah.

Ketika kedua anak itu masih kecil, gelombang pasukan itu seringkali berbelok ke arah istana. Mereka berfikir, dalam istana seindah itu pasti pasti tersembunyi harta yang sangat berharga.

Prajurit-prajurit itu benar. Istana itu dilengkapi dengan perabot-perabot yang mahal. Pakaian kedua penghuninya indah dan mewah. Peti perhiasan tergeletak begitu saja di meja rias si gadis. Peti-peti sarat dengan muatan emas ada dimana-mana.

Namun belum pernah ada seorang prajuritpun yang berhasil mencuri sesuatu dari istana tersebut. Istana itu seperti dikelilingi dinding yang tak terlihat. Jika ada yang mencoba mendekat, udara disekeliling dinding istana seolah-olah menebal dan menggulung mereka. Rasanya seperti berjalan diatas lumpur hidup, meski di sekitarnya yang nampak hanya pemandangan pedusunan yang aman dan damai.

Sehingga orang-orang mengatakan bahwa istana di huni hantu. Tak seorangpun berani mendekati istana tersebut.

Philada, nama gadis itu, tak mengerti kehidupan lain di luar dinding istana. Dia sudah terbiasa dilayani oleh pelayan-pelayan yang tak terlihat oleh mata. Paul kakaknya masih bisa mengingat ibunya yang cantik jelita, serta ayahnya, seorang bangsawan tampan penguasa istana itu.

Seringkali Paul berdiri memandangi sebuah patung di taman istana. Patung itu tampak cantik sekali. Mungkin dulu ada seorang wanita anggun yang sedang berjalan-jalan, yang kemudian tiba-tiba membeku menjadi batu.

"Ibu...,Ibu...!", bisik Paul. "Mengapa Ibu diam membeku? Aku yakin, kau adalah Ibuku. Mengapa aku dan Philada tinggal dalam istana angker ini?"

Pada suatu hari di musim panas, Paul dan adiknya sedang memandangi pedusunan dari puncak menara istana, mereka melihat ada perubahan. Tak ada lagi prajurit-prajurit yang berperang disana. Penduduk keluar dari persembunyian mereka di gunung-gunung dan membangun kembali desa mereka yang porak poranda..

Paul da Philada terkejut ketika suatu pagi muncul seorang penunggang kuda mendekati gerbang istana. Tak ada lagi dinding ajaib yang menghalanginya. Penunggang kuda itu masuk istana dan memanggil mereka.

"Perang sudah selesai," katanya. "Majikanku, Panglima Janggut Kelabu, telah mengalahkan dan mengusir musuh. Negeri kita sudah aman. Dia adalah panglima yang pandai dan bijaksana. Tetapi sayang,dia tidak bisa memecahkan rahasia Burung Hijau. Para penasehatnya mengatakan, hanya mereka yang tinggal di istana angker ini yang dapat memecahkan rahasia itu. Di utusnya aku mengundang kalian untuk menghadapnya dan memecahkan misteri ini."

Paul dan Philada sangat gembira mendengar penjelasan prajurit itu. Mereka juga merasa lega karena perang telah usai dan diding ajaib yang mengelilingi istana mereka tampaknya sudah hilang.

Sekarang Paul dan Philada sudah bisa pergi ke Desa sekitar, berkenalan dengan pemuda - pemudi yang sebaya dengan mereka serta hidup wajar seperti orang-orang lainnya.

Tetapi Paul dan Philada tidak tahu apa-apa tentang Burung Hijau. Apa yang harus dilakukan?mereka juga tak ingin membuat panglima Janggut Kelabu marah.

Tiba-tiba mereka mendengar suara merdu yang memanggil-manggil. Terlihat patung wanita anggun itu tiba-tiba hidup kembali. Ia melangkah menghampiri mereka.

"Ibu!" serentak kedua kakak beradik itu memanggil wanita itu.

"Perang sudah usai,begitu pula sihir yang melingkupi istana ini," kata wanita itu sambil tersenyum."Bertahun-tahun yang lalu, ayah kalian pergi berperang bersama pasukannya. Kudengar dia gugur, lalu kesedihanku membuatku beku jadi batu. Kalian berdua tinggal sendiri, tapi Dewa Gunung merasa iba. Disihirnya istana ini supaya kalian selamat sampai perang selesai. Kemuadian Ia mencari ayah kalian dan menemukannya dalam keadaan luka parah. Di sihirnya ayah kalian menjadi Burung Hijau yang tinggal dalam sangkar emas, Dia berjanji, ayah kalian akan hidup bahagia di sangkarnya sampai perang selesai."

"Siapapun yang berani mencoba menyentuh burung itu sebelum perang usai, akan berubah menjadi batu," lanjut wanita cantik itu. "Tetapi jika salah satu dari kalian kesana, dan berteriak 'ayah' maka patung-patung itu akan kembali ke wujudnya semula."

Dengan gembira Philada mengikuti prajurit yang menunjukkan jalan ke tempat Burung Hijau di lereng pegunungan.

"Ayah!" seru Philada ketika sampai ditempat Burung Hijau yang berada dalam sangkarnya.

Tiba-tiba berdiri di hadapan Philada seorang laki-laki yang diyakini sebagai ayahnya. Dan patung-patung disekitarnya juga berubah kembali menjadi manusia. Semua selamat berkat kesaktian Dewa Gunung.




   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar